Dikisahkan, suatu hari seorang gubernur mengutus kurir menghadap raja untuk suatu urusan kanegaraan. Istri gubernur menitipkan bingkisan berupa permata untuk permaisuri raja. Pulangnya, si kurir membawa bingkisan berupa kain sutera indah.

Melihat kiriman tersebut, gubernur langsung menyitanya dan menganggap sebagi milik negara. Istrinya tak terima. Namun dijawab sang suami, “kalau bukan istri gubernur, tak mungkin kau menerima hadiah ini. Kau telah menggunakan kesempatan ini untuk memperkaya diri. Kurir yang kukirim tempo hari hanya dalam rangka urusan negara,” jawab gubernur.

“Tapi ini hadiah balasan pribadi dari permaisuri.”

“Benar, tapi urusan kirim-mengirim ini telah menggunakan fasilitas negara,” jawab gubernur.

Perdebatan semakin panjang. Baik gubernur maupun istrinya bersikeras dengan argumen masing-masing. Akhirnya, urusan diserahkan pada hukum. Persidangan memutuskan, hadiah itu sah menjadi milik istri, bukan milik negara.

“Aku sudah menduga hadiah itu menjadi milikimu,” kata gubernur.

“Lalu mengapa kau bersikeras membawa hal ini ke pengadilan?” tanya istrinya.

Lagi

Iklan